Rabu, Juli 23, 2008

Asap rokok untuk anak(mu)

Malam itu kami sedang makan malam di salah satu tempat makan di Tamini Square. Tadi sore, Lintang sudah pengan makan malam di luar. Saat itu, tempat makan itu tak seperti biasanya yang selalu ramai dengan para pengunjung. Tapi kali ini tidak. Jadi kami pun bisa dengan segera menikmati makanan dan minuman yang kami pesan. Konon, kabarnya tempat makan ini pelayanannya kurang baik, itu menurut salah satu teman.

Udara di ruangan tersebut memang tak seperti biasanya yang selalu dingin. Kali ini terasa agak sedikit panas. Mungkin ini salah satu akibat adanya himbauan efisiensi penggunaan energi yang dicanangkan oleh pemerintah. Entahlah. Istriku sudah meminta kepada pelayanan untuk melihat kondisi pendingin udara. Mungkin saja salah pengaturannya. Dia sangat kegerahan. Maklumnya, ibu-ibu yang sudah hamil tua seperti dia, mudah sekali kegerahan :p

Tak jauh dari tempat duduk kami, di seberang meja sepasang pasutri sedang asyik berbincang. Di tangan mereka masing-masing terselip sebatang rokok yang sedang menyala. Sesekali asap mengepul di sela-sela perbincangan mereka. Di sebelah mereka, sebuah kereta bayi di letakkan. Rupanya mereka adalah pasangan muda dengan seorang bayi. Tak lama, tangan kiri sang ayah telah menggendong bayi yang kira-kira baru berumur setahun itu. Sedangkan sang ibu, mencoba untuk memberikan sesuap makanan kepada bayinya. Namun, di sela-sela kegiatan tersebut, mereka berdua masih tetap menghisap rokok di tangannya. Asap rokok pun mengepul memenuhi ruangan itu.

Melihat hal itu, istriku menggeleng-gelengkan kepala. Rupanya agak sebal dengan kelakuan pasangan muda tersebut. Nggak yang laki atau perempuannya, keduanya merokok di depan bayinya. Uhh... apa mereka nggak peduli dengan kesehatan bayinya, atau mereka nggak tahu efek dari perbuatannya tersebut. Aku rasa mereka juga bukan orang yang tak berpendidikan, tapi mengapa melakukan hal tersebut. Sungguh aneh.

Setiap anak yang lahir mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Yaitu hak mendapat pengasuhan, hak mendapatkan kesehatan, hak mendapatkan pendidikan dan hak mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan. Jadi, merokok di depan bayi jelas-jelas telah melanggar hak mendapatkan kesehatan bayi tersebut sebagai seorang anak!

"Duh, maafkan kedua orang tuamu nak yang nggak mau peduli denganmu", batinku lirih.

* * gambar diatas bukan gambar asli di TKP, hanya ilustrasi belaka (lagian gile aje kalo aku motret pasutri perokok tsb., kalo ketahuan bisa digebukin, ngapain nyampurin urusan orang laen :p)
** btw, selamat hari anak nasional ya.


Bacaan lain:
- Dampak orang tua perokok pada anak

» Baca juga artikel yang berkaitan:

2 komentar. Sampeyan sudah?:

David SK mengatakan...

Inilah kondisi bangsa kita ...
kita kehilangan yang namannya "awareness".
baik masyarakat, pejabat, pelajar, pekerja, pengangguran ataupun kalangan pendidik ... level awareness semakin "terjun ke jurang".
Kita harus mulai dari DIRI KITA sendiri kayaknya ... seperti ada orang bijak yang mengatakan:
"banyak orang berhasrat untuk mengubah dunia, tapi sedikit saja yang berhasrat untuk mengubah diri sendiri... padahal sejatinya, mengubah diri sendiri, berarti mengubah dunia"

atha lakuary mengatakan...

memprihatinkan ...

saya aja yang udah 21tahun kurang suka dengan asap roko,,
apalagi c baby itu :(
karena kbetulan dikeluarga saya tidak ada yang merokok..

mungkin mreka tidak terlalu memikirkan itu,,
yang penting asik menghisap..
ini yang ga boleh dibiarin...