Senin, Januari 26, 2009

Ketika rokok menjadi haram..

Saya bukanlah anti rokok, namun demikian saya juga bukanlah perokok. Bagi saya rokok adalah sesuatu yang bisa bermanfaat atau bisa juga mudharat, tergantung cara pandang kita terhadapnya.


Bagi tetangga-tetangga, teman bahkan saudara saya yang kebetulan adalah buruh linting atau karyawan pabrik rokok di Malang sana, rokok bisa jadi merupakan berkah bagi mereka dan bagi seluruh anggota keluarganya. bagaimana tidak, dengan bekerja di pabrik-pabrik rokok yang tersebar di seluruh penjuru kota Malang, mereka bisa menafkahi keluarganya dengan baik. Bahkan saya ketika saya kecil, ibu saya bekerja membantu menambah nafkah keluarga dengan menjadi buruh pabrik rokok. Jadi, secara tak langsung saya pernah menikmati manfaat rokok.

Secara sosial, merokok juga dapat mengeratkan keakraban. Rokok merupakan media yang paling mudah sebagai teman obrolan di kala senggang. Pemasukan negara dari cukai rokok, juga tak bisa dianggap remeh. Pada tahun 2008, penerimaan negara dari sektor cukai mencapai Rp. 40 triliun. Dibandingkan dengan anggaran kesehatan yang dialokasikan oleh pemerintah yang hanya Rp. 16 triliun, pendapatan cukai tersebut sudah bisa menutupinya.

Diakui atau tidak, banyak juga yang berpendapat bahwa rokok membawa sengsara. Banyak mudharatnya lah. Sebenarnya langkah pemerintah dengan menaikan tarif cukai sebesar 57% sudah cukup tepat. Disamping dapat mengurangi angka pengangguran, bagi perokok yang waras jika ingin tetap merokok pasti akan mikir-mikir. Daripada uang dibelikan rokok mending dibelikan barang lain, bukan?

Sayangnya banyak perokok yang -maaf- tidak waras. Walaupun harga rokok sudah naik sekian persen baginya itu tak ada pengaruhnya. Tetep aja merokok dengan tak pandang waktu dan tempat. Walaupun sebenarnya perokok tersebut juga telah tahu apa saja pengaruh negatif dari merokok. Hal itu tak mengendurkan nyali untuk menghisap rokok. Adanya kenaikan harga rokok, ada juga perokok yang sudah berhenti. Bukan berarti berhenti merokok namun berhenti beli rokok. Dalam arti merokok jika ada gratisan. hehehe...

Untuk perokok yang tipe seperti itu, rupanya bikin MUI gerah. Maka keluarlah fatwa bahwa merokok itu haram. Kayaknya dengan adanya fatwa ini, lirik lagu "Haram" ciptaan Bang Haji Rhoma Irama yang populer tahun 1980-an harus ada yang ditambahkan.
"Kenapa, e, kenapa merokok itu haram
Karena, e, karena MUI telah menfatwakan"

Pertanyaannya, jika merokok itu haram bagaimana dengan rokoknya? Apakah haram juga?
Wah, bisa jadi fatwa ini akan menambah koleksi jumlah pengangguran di negeri ini, kecuali jika MUI juga memberikan alternatif solusi untuk memberikan lapangan kerja baru bagi ex. karyawan pabrik rokok.

Sabtu, Januari 24, 2009

Impotensi? Maaf, bapakmu tidak mengalaminya, nduk..

Sebuah tulisan baliho iklan rokok menarik perhatian Lintang (5), saat kami sedang melintas di tengah kemacetan terowongan Penas, Jakarta Timur pada suatu sore.


"Pak, rokok itu khan nggak baik ya?", Lintang membuka pembicaraan.
"Nggak, baik kenapa?", saya balik bertanya.
"Itu ada tulisannya, MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Itu khan artinya nggak baik."
"Hmmm..."

Kami diam sejenak.
"Kanker itu apa sih, Pak?", Lintang kembali bertanya.
"Itu nama penyakit.", kucoba menjawab sekenanya sambil terus menyetir.
"Penyakit yang bagaimana?",
"Itu kayak Mbah Uti.", jawabku sambil mencoba menerangkan penyakit almarhum ibu mertua yang terkena kanker payudara. Kulihat Lintang begitu serius mendengarkan ceritaku.

Kami diam sejenak.

"Tapi, Pak.. Mbah Uti khan nggak merokok?"
GUBRAKKKK!!!
Wah repot neh kalo nerangin sama anak kecil. Ya udah aku coba terangin sebisaku tentang korelasi antara merokok dan kanker. Semoga dia bisa memahami. Tak lupa aku coba alihkan pembicaraan ke topik yang lain. Repot ntar kalo menanyakan bahaya merokok yang lainnya lagi.

Anak seusia Lintang memang penuh dengan rasa penasaran yang kadang-kadang merepotkan untuk menjawabnya. Contohnya ketika berkunjung ke rumah sakit, ibunya pernah bercerita bagaimana ketika Lintang membaca poster tentang penyakit diabetes melitus dan berbagai dampaknya. Dijelaskan pada poster tersebut resiko bila orang menderita diabetes antara lain kerabunan, berat badan yang terus menurun, resiko penyakit jantung, impotensi dll. Masing-masing resiko disertai dengan gambar. Masing-masing gambar dia tanyakan ke ibunya. Ibunya berusaha menjawab sebisa mungkin sesuai dengan pemahaman anak seusia dia. Namun, saat menanyakan apa impotensi, ibunya kerepotan menjawab.

"Trus, kamu jawab apa?", tanya saya pada ibunya Lintang.
Sambil tersenyum, ibunya menjawab,"Aku suruh tanya ke bapak aja, karena bapak yang lebih ngerti..." Walah... asyeeemmmm tenan... padahal sebelumnya saya juga sudah berusaha menghindari pertanyaan ini saat membahas masalah bahaya merokok, lho..

Untungnya sampai saat ini, Lintang belum nanya tentang apa sih impotensi tersebut. Tapi saya kudu siap-siap neh jika suatu saat dia menanyakan hal tersebut. Gimana para pembaca, apakah sampeyan mau bantu saya, kasih jawaban yang pas buat Lintang?

Rabu, Januari 14, 2009

Teror arwah hantu muka rata :-)

Sebuah offline message saya terima pagi ini di YM Messenger, isinya:

c****_me (1/13/2009 11:01:59 PM): 081213131313 ,,,,,,,,,,malem....nama gw " Tasya " Umur gw 17 tahun , Lo hrs tlngin gw,,,tgl 13 juni kmrn gw br plng Dugem , Gw Diperkosa dan Dibunuh Tepat pukul 030 , Setelah itu tubuh gw Dipotong jadi 13 bagian...tepat sbulan ini tubuh gw belum terkumpul semua. Gw Lupa muka Gw karena Dirusak oleh mereka. Lo hrs Sebar Pesen ini ke 13 orang. dan jgn sampe berhrnti di elo ,! Kalo ngga lo bakal gw gangguin tiap jam 2 pagi ( menit ke 13 ) , Lo tiba Bgn dan ada Kepala Dgn Muka Rata ( INI KISAH NYATA ) [BS]
Sejenak saya terdiam. Bukannya saya jadi parno, tapi pengen ketawa campur sebel campur penasaran. Hebat ya arwah jaman sekarang, bisa kirim pesan via YM Messenger? Jangan-jangan banyak juga hantu yang sudah main online social networking seperti Facebook, MySpace juga :D Kayak gini nich kalo sudah teracuni film-film horor yang mengkait-kaitkan dengan kemajuan teknologi. Jadi inget film One Missed Call, sang arwah masih saja bisa melakukan pembunuhan berantai kepada semua orang yang terdaftar di phonebook.

Saya sendiri langsung ambil kesimpulan bahwa ini adalah hoax saja. Lho tanpa melakukan cek 'n ricek terlebih dulu? Ya, biarin.. udah jelas khan tanda-tandanya? Yaitu meminta kita melakukan pesan berantai ke semua orang.

Berdasarkan beberapa info yang saya dapat dari internet, bisa jadi hoax ini sudah muncul sejak tahun 2007. Cuman yang berbeda adalah umurnya. Di tahun 2007 tersebut umur si Tasya sudah 19 tahun, kenapa sekarang jadi 17 tahun? Apakah ini Tasya yang berbeda? Trus siapa sih Tasya tersebut? Apakah ini? Upss... maafkan saya jika salah orang. Tapi ngomong-ngomong foto si Tasya yang ini cakep juga. Hehehe...

Jadinya gimana dong, apakah harus disebarin pesan berantai tersebut?
Ya, jelas enggak dong. Konyol banget kalo kita ngelakuin hal tersebut. Apalagi jika dikaitkan dengan pasal 29 UU-ITE, perbuatan tersebut merupakan salah satu perbuatan yang dilarang yang dapat berakibat dijatuhi hukuman penjara 12 tahun atau denda sebanyak Rp. 2 Miliar!!!!
Pasal 29 -- DILARANG
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

Pasal 45, ayat 3
Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Yang jelas saya emoh dipenjara, nah kalopun bayar denda duit darimana?

** Adakah sampeyan pengen nyoba iseng-iseng nelpon ke nomor ponsel yang disebutin tersebut diatas? Siapa tahu yang angkat emang hantu betulan. Hiiiii.... :D

Sabtu, Januari 10, 2009

Nostalgia ikutan sanggar seni

Seorang mbak-mbak mendatangi kami yang sedang memilih barang di rak di salah satu perbelanjaan di Jakarta Timur. Mbak tersebut menawarkan agar Lintang -- yang kebetulan kami ajak berbelanja -- untuk bergabung mengembangkan bakat di Sanggar Ananda.


Sanggar Ananda merupakan sanggar yang cukup aktif membuat dan mengisi tayangan televisi melalui iklan TV dan media cetak, sinetron, drama dll. Bahkan salah satu produksinya "Lenong Bocah" pernah menyabet 6 piala Vidia di acara Festifal Sinetron Indonesia 1994-1995 dalam kategori tayangan komedi terbaik saat itu. Beberapa artis terkenal saat ini banyak yang merupakan jebolan sanggar ini.

Berbicara tentang bakat akting, kami sendiri sudah melihat pada diri Lintang. Lintang memang memiliki kemampuan bertutur yang bisa dikatakan lebih menonjol dibandingkan dengan bakat yang lain. Dia pada umurnya yang sekarang bahkan telah mampu menceritakan pengalaman pribadi melalui tulisan dan gambar-gambar. Bahkan pada perpisahan di TK sebelumnya dia berani tampil di depan umum memberikan pidato perpisahan dan menjadi pemain operet pada acara tersebut.

Saya sendiri tak merasa keberatan jika seandainya Lintang ikut dalam kegiatan sanggar. Bahkan bisa jadi akan mengingatkan saya pada masa SMP dulu. Saya sendiri pada saat SMP ikut dalam sebuah sanggar yang diadakan di sekolah. Nama sanggarnya adalah Sanggar Vorirax yang merupakan singkatan vokal, tari dan gerak. Sanggar ini merupakan salah satu kegiatan ektrakurikuler yang diadakan di SMP Negeri I Wagir, Malang pada saat itu (tahun 1990-an). Sayangnya, sanggar ini kurang berkembang dikemudian hari. Entah saat ini.

Pada masa kecil saya, kegiatan seni sering saya ikuti. Saat SD misalnya, beberapa acara lomba menulis dan membaca puisi banyak saya ikuti kala itu. Lumayanlah, untuk tingkat kecamatan sampai kabupaten Malang beberapa prestasi bisa saya raih. Kadang juara satu, juara dua namun seringnya juara harapan satu..hehehe.. Namun, karena prestasi yang nanggung itu akhirnya saya nggak ikutan lagi lomba-lomba baca puisi ini.

Atmosfer kala masa kecil saya memang menarik kepada cinta kesenian. Masih ingat dengan cerita-cerita anak yang dibawakan oleh Sanggar Cerita? Ada cerita tentang Bawang Putih dan Bawang Merah, Mario Haley dll.? Di Malang kala itu banya radio yang memutar sandiwara radio ini. Saya yakin demikian halnya dengan kota-kota lainnya. Tak jarang, saya rela menunggu pemutaran sandiwara ini di radio kesayangan. Maklum, untuk beli kasetnya, saya tak cukup punya keberanian untuk meminta dari orang tua. Lagi pula, jika saya minta juga belum tentu dibelikan karena kondisi ekonomi orang tua yang tak bisa dikatakan baik. Bahkan hanya sekadar untuk membeli kaset.

Mendengarkan sandiwara radio dari Sanggar Cerita inilah yang akhirnya memotivasi saya kala itu untuk ikutan dalam kegiatan berkesenian. Siapa tahu nanti bisa jadi artis terkenal hehehe... Sayangnya, keinginan tinggal keinginan. Akhirnya tak kesampaian juga lha wong sekarang akhirnya jadi kuli komputer :(

*****
Mbak-mbak tesebut masih menerangkan cara bergabung dengan Sanggar Ananda kepada istri saya. Terus terang saya sendiri tak akan memaksakan Lintang untuk ikutan sanggar tersebut. Jika ia mau, biarlah ikut sanggar asal tempat latihannya nggak jauh-jauh dari rumah kami di Lubang Buaya. Tapi agaknya tempat latihannya nggak ada yang deket rumah, ya terpaksalah Lintang belum berkesempatan ikut dalam sanggar ini. Sayang sekali...

Ada yang masih punya kasetnya Sanggar Cerita? Boleh sharing dong...

** gambar sampul kaset diambil dari sini.