Minggu, Agustus 31, 2008

Keistimewaan seorang perempuan

"Sudah lahiran istrimu?", tanya seorang kenalan.
"Sudah, minggu kemaren"
"Bayinya laki atau perempuan"
"Alhamdulillah, perempuan", jawab saya.
"Ya gak apa-apa yang penting selamat dan sehat", kata sobat saya.

Ya, jelas gak apa-apa, emang kenapa dengan perempuan? Seakan-akan bayi perempuan bukanlah bayi yang terlalu diharapkan. Apakah mempunyai anak perempuan sungguh tak beruntung?

Memang, ada beberapa orang yang mengatakan, ribet punya anak perempuan. Mereka pun membuat daftar, betapa ribet dan "ruginya" jika punya anak perempuan.

  • Perempuan auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
  • Perempuan perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
  • Perempuan saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
  • Perempuan menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
  • Perempuan perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
  • Perempuan wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
  • Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
  • Perempuan kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
Hmm... sedemikian susahnyakah jadi perempuan? Padahal, pernahkah kita lihat sebaliknya?
  • Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang perempuan.
  • Perempuan perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
  • Perempuan menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, dia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
  • Perempuan perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
  • Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang perempuan tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
  • Seorang perempuan boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu:shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
  • Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Subhanallah, demikian sayangnya Allah pada perempuan. Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya / peraturanNya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/ hukum buatan manusia.

Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu terhadap isterimu.

Rasulullah bersabda bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).

Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.

"Jadi, masih kepengen punya anak laki-laki gak?"
"Insyaallah...", jawab saya.

Kamis, Agustus 28, 2008

Ramadhan di kampung halaman vs di Jakarta

Ramadhan sebentar lagi akan datang menyapa kita semua kaum muslim di jagat ini. Apa yang sudah kita siapkan untuk menyambutnya?

Dulu saat saya masih di kampung halaman di Malang sana, menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak warga yang mengadakan syukuran, mengadakan kenduri kecil-kecilan untuk menyambutnya. Ini kami namakan dengan punggahan poso. Saya yakin, sampeyan-sampeyan yang asli warga Jawa Timur, apalagi Malang akan mengenal kebiasaan ini. Menyambut Ramadhan laksana menyambut datangnya tamu agung yang akan datang setahun sekali. Dia akan dihormati bak seorang raja. Warga akan bersuka cita menyambutnya.

Selanjutnya, kami akan mengunjungi makam para anggota keluarga yang telah berpulang. Ini kami sebut dengan nyekar. Disitu kami akan membersihkan makam tersebut, menaburinya dengan bunga dan tak lupa kami panjatkan do'a kepada ahli kubur semoga arwahnya mendapatkan kelapangan oleh Allah SWT.

Tak lupa, sehari sebelum puasa, orang-orang akan melakukan mandi keramas. Dulu di dekat masjid kampung kami mengalir sebuah sungai. Air sungai itu dialirkan menuju halaman masjid dan dijadikan kolam untuk tempat berwudhu. Disamping masjid, air sungai itu dialirkan lagi menjadi semacam tempat mandi. Disitulah banyak orang-orang yang akan mandi keramas sehari sebelum esoknya berpuasa.

Suasana agamis begitu kental selama bulan suci di kampung halamanku. Tiada hari yang tak terlewatkan untuk menjalankan taraweh dan sholat subuh bersama. Suasana tadarus setiap malam di masjid, walaupun kadang karena ngantuk yang tak tertahankan, aku sering melewatkan begitu saja, namun ia sangat indah untuk dikenang.

Hal ini sangat berbeda sekali dibanding kondisi menyambut bulan suci di Jakarta. Tak jarang, sholat taraweh berjamaah sering terlewatkan begitu saja karena berbagi kesibukan. Yang kuliah lah.. atau kesibukan kerja. Apalagi tadarusan hmmm.... Agaknya bulan suci kali ini pun, saya akan banyak absen sholat taraweh berjamaah. Bagaimana tidak? Pada saat banyak orang sibuk taraweh, saya masih akan disibukkan dengan kuliah malem. :(

Satu lagi kebiasaan warga Jakarta dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, yaitu berbondong-bondong memenuhi berbagai loket penjualan karcis kereta api. Seperti yang nampak pada gambar diatas. Itu adalah suasana di Stasiun KA Jatinegara 27 Agustus 2008 kemaren pagi jam 07.00 WIB. Mereka berdesak-desakan untuk sekedar mendapatkan selembar tiket kereta eksekutif atau bisnis guna keperluan pulang kampung. Agaknya mereka tak hanya bersiap menyambut bulan suci semata, namun langsung menyambut lebaran sekaligus! Hebat bukan? Puasa aja belum tapi udah siap-siap mau lebaran. Itulah Jakarta!

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Kurindu suasana ramadhan di kampung halamanku. Apakah sampeyan para pembaca juga demikian?

Rabu, Agustus 20, 2008

Kisah orang paling ganteng dimulai

Alhamdulillah, puji syukur aku panjatkan ke hadiratmu Ya Allah. Istri dan bayiku telah selamat. Semua itu adalah anugerah dari-Mu Ya Robbi.

Bayi mungil itu lahir dengan berat 3,5 Kg dan panjang 50 cm. Terus terang sampai hari ke-tiga kelahirannya, kami belum memilihkan satu pun nama untuknya. Maklum, sejak awal aku yakin bahwa bayi kami berjenis kelamin laki-laki walaupun dr. Budi bersikukuh bahwa bayi kami adalah perempuan. Keyakinan itu berlanjut hingga bulan ke 7 kehamilan. Saat itulah aku pasrah dengan apa yang akan di anugerahkan oleh Allah kepada kami. Laki-laki atau perempuan khan sama aja tho?

Bayi kami ternyata adalah perempuan, itu artinya gelarku sebagai orang paling ganteng (minimal di dalam rumah) masih belum terpecahkan hehehe...

Awalnya kami akan beri nama bayi tersebut dengan Najma yang berarti bintang. Karena saat ini di rumah kami telah terdapat satu bintang yaitu si Lintang (bahasa jawa= bintang). Tapi agaknya istriku kurang sreg. Kami pun belum mendapatkan satu namapun untuk si jabang bayi.

Hingga hari ketiga sejak kelahiran, bayi kami dan istriku belum bisa pulang. Ini di karenakan karena hasil pemeriksaan darah ditemukan birilubin si jabang bayi masih tinggi atau bahasa awamnya "kuning". Jadi harus di lakukan penyinaran neonatus. Dulu para ibu-ibu jika bayinya kena kuning cukup di jemur tiap pagi di bawah sinar matahari.

Pagi tadi aku katakan pada suster, bahwa kami akan bawa saja bayi ini pulang. Tapi si suster memberikan penjelasan yang cukup menakutkan. Dia bilang, boleh saja, tapi jika terjadi apa-apa apa gak lebih repot bolak-balik ke RS? Bener juga sih.

Aku coba lihat hasil pemeriksaan laboratorium tertanggal 17 Agustus 2008 atas bayiku ini. Ada yang aneh. Disitu di tulis golongan darah si jabang bayi adalah O. Hmmm... bagaimana bisa? Golongan darahku A, istriku B gimana bisa jadi O? Kalo Lintang golongan darahnya AB mungkin masih wajar. Lha ini kok O ya? Jangan-jangan......

Terbesit rasa curiga, jangan-jangan bayi ini tertukar saat dimandiin? Aku kembali menbanding-bandingkan foto saat si bayi masih baru lahir dengan kondisi saat ini. Persis banget. Jadi gak mungkin tertukar dong. Jadi ini bayi siapa? Jangan-jangan...

Rasa penasaran itu pupus sudah ketika suster memberitau, bahwa kondisi itu bisa saja terjadi. Hasil browsing-browsing di internet ketemu ini. Konon, kabarnya golongan darah O ini bisa menjadi pendonor bagi banyak orang. Itu artinya ia akan bisa menolong banyak orang. Sungguh mulia.

Walaupun seorang pujangga Inggris, William Shakespeare, pernah mengatakan, what is in a name? (apalah arti sebuah nama?) dengan kalimat nan indah: that which we call a rose (yang kita sebut bunga mawar), by any other name (dengan nama lain apa pun), would smell as sweet (akan senantiasa harum), tapi kami harus pilihkan nama yang terbaik bagi putri kami. Bayi mungil itu akhirnya kami pilihkan sebuah nama ASYIFA dari kata ASSYIFA yang berarti penolong/obat. Semoga bayi kecil ini kelak bisa berguna dan menolong banyak orang. Sedangkan nama panjangnya adalah ASYIFA RAYA DYANDRA PRADIPTA. Itulah nama sekaligus harapan orang tua baginya.

Sabtu, Agustus 16, 2008

Malam yang mendebarkan sekaligus indah.

"Pak.. pak... ketubanku udah pecah..."

Suara panik dari mulut istriku membuat tidur lelapku terjaga. Aku sekilas melihat jam menunjukkan jam 12 malam. Lekas aku cari kunci mobil dan menstaternya. Kulihat di lantai percikan-percihan air ketuban istriku telah berceceran dimana-mana, ruang tamu, kamar tidur dan juga teras. Si Lintang yang masih tertidur lelap langsung aku bopong dari kamar tidur menuju mobil. Setelah pintu rumah aku kunci, mobil kujalankan.

Laju kendaraan tak bisa kencang saat di dalam gang rumah kami. Jalanan gang yang sempit dan rusak menghalangi laju kencang mobilku. Syukurlah hal itu tak berlangsung lama. Mobil kupacu 60-80 km melintasi jalan Rawabinong, Lubang Buaya, Pondok Gede menju Rumah Sakit Haji Jakarta. Dalam perjalanan tak henti-hentinya kami kumandangkan istigfar menyebut nama Allah. Kulihat penderitaan istriku yang begitu hebatnya tak kuasa kumenitikkan airmata.

Sesampai di pintu gerbang RS Haji, mobil terus aku lajukan ke depan lobi. Teriakan petugas parkir kujawab bahwa sedang darurat. Sesampai di depan lobi, petugas keamanan (satpam) dengan sigap langsung menyediakan kursi roda buat istriku. Lintang yang tadi tertidur langsung ikut ibunya masuk ke RS. Tapi eittt..., kayaknya ada yang terlupa... Ternyata, Lintang belum pake baju saat aku bopong masuk ke mobil tadi. Ia hanya mengenakan celana dalam dan kaos singlet saja... Yah, memang begitulah kebiasaan dia saat tidur agar tidak kegerahan.

Setelah aku parkir, aku langsung menuju ke lantai 2 RS Haji. Disana istriku telah berbaring diatas tempat tidur ditemani beberapa suster. Dari hasil observasi sementara, ketuban telah pecah dan bercampur dengan kotoran bayi. Jadi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap bayinya, maka mau tak mau dianjurkan untuk dilakukan persalinan dengan operasi sesar. (sectio cito). Ya, apa boleh bikin, jika itu yang terbaik bagi istri dan calon jabang bayi.

Pada saat kami berangkat tadi, aku telah menghubungi dr. Budi melalui telepon genggam mengabarkan kondisi yang di hadapi istriku. Dokter ini, disaat-saat trimester ketiga kehamilan istriku, memang memberikan nomor telpon genggamnya untuk dihubungi sewaktu-waktu. Saat kami datang, dokter Budi masih melakukan operasi sesar. Jadi kami harus bersabar menunggu giliran. Sambil menunggu giliran, aku melengkapi persyaratan-persyaratan tindakan dari RS.

Akhirnya giliran istriku memasuki ruang operasi. Aku tak boleh ikut masuk kedalam, jadi harus menunggu di luar ruangan. Tak henti-hentinya aku berdo'a memohon kepada Allah untuk diberikan yang terbaik bagi kami semua.

Tepat pukul 01.38 WIB, tangisan bayi memecah keheningan malam. Itulah tangisan bayi kami. Tak lama seorang suster memberitahu bahwa bayi kami bisa ditengok. Kulihat bayi mungil itu dalam sebuah kotak. Bayi yang masih suci. Lamat-lamat kukumandangkan adzan dan iqomat di telinganya. Bayi itu terdiam dari tangisnya. Matanya yang bersih memandangku. Sungguh indah sekali.

Di ruangan lain, kulihat istriku sedang berbaring. Kelihatannya cukup lelah. Beberapa butir peluhnya masih tersisah di dahinya. Kuusap peluh itu sambil kubisikkan, "Terima kasih ya neng..."

Malam ini benar-benar sungguh mendebarkan, namun cukup indah.

Sabtu, Agustus 09, 2008

Teori Broken Window dan kenyataan siang itu

Siang itu udara sangat panas. Debu-debu beterbangan kesana kemari. Deru suara mesin kendaraan yang memenuhi jalan semakin membuat suasana tidak nyaman. AC mobil yang kami naiki, juga tak bisa membuat udara dingin menyamankan diri. Di perempatan Mambo Tg. Priok lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Itu artinya kendaraan kami ini harus berhenti. Didepan kendaraan kami, sebuah truk juga berhenti.

Tiba-tiba , dua orang pemuda menghampiri truk tersebut. Mereka berjongkok di kolong truk meraih-raih sesuatu. Bisa jadi bagi sebagian orang, kejadian ini merupakan hal yang lumrah terjadi jika yang di hampirinya merupakan truk tangki pembawa BBM. Maklum, banyak orang yang berusaha mencari sisa-sisa BBM di kran pengeluaran. Mereka menyebutnya dengan kencing BBM. Namun, truk yang di hampiri tersbut bukanlah truk BBM. Jadi apa yang akan diambilnya?

Tak lama kemudia, salah seorang dari pemuda tersebut mengambil sebuah pipa besi berukuran agak panjang dari kolong truk. Kelihatannya itu adalah pipa besi yang biasa digunakan oleh pengendara truk untuk pengungkit dongkrak ketika sedang ngeban. Sedangkan pemuda satunya mengambil beberapa peralatan bengkel di kolong truk tersebut, seperti kunci-kunci baut kelihatannya. Saat pengemudi hendak turun, lampu lalulintas berganti hijau. Kedua pemuda tersebut segera pergi dengan cepat.

Inilah yang sempat tertangkap kamera.
Peristiwa tersebut terjadi begitu cepat. Pak polisi yang tak jauh dari perempatan tersebut juga tak berbuat banyak. Kelihatannya pak polisi memang sengaja membiarkan kejadian tersebut.

Banyak orang bilang,"Penjahat kelas kakap, penilep uang BLBI milyaran rupiah dan para koruptor dibiarkan saja, tapi maling ayam ditangkap dan di jatuhi hukuman sangat berat. harusnya para polisi menangkap para koruptor2 itu itu dulu. jangan hanya galak pada orang-orang kecil saja.." Nah, pak polisi tadi mungkin terpengaruh oleh jargon ini, makanya maling-maling tadi dibiarkan begitu saja.

Eits... nanti dulu. Apakah memang harus seperti itu?

Alkisah, New York di tahun 1980-an merupakan kota yang menyeramkan. Bayangkan, setiap tahun terdapat 2.000 orang yang menjadi korban pembunuhan dan 600.000 orang yang melaprkan mengalami tindak kekerasan serius tiap tahunnya. Tapi seperti biasa, laporan-laporan tersebut tidak bisa ditidaklanjuti. Polisi seakan tak berdaya terhadap hal-hal ini.

Pada saat itu, di New York tersebutlah sosok David Gunn yang merupakan Direktur Urusan Perkeretaapian dan William Bratton yang merupakan komandan keamanan kereta api. Perlu diketahui, angka kejahatan tersebut diatas salah satunya terjadi di kereta api. Mulai dari pemalakan, pemerasan bahkan perusakan fasilitas-fasilitas kereta api. Sehingga total kerugian yang terjadi makin hai semakin besar.

Nah, si Gunn dan Bratton ini sepakat memulai pekerjaan-pekerjaan besar dari hal-hal yang kecil. Aksi corat-coret (vandalisme) menjadi perhatian mereka yang pertama. Tentu saja banyak orang yang meragukan, masa membenahi kinerja perkeretaapian dengan memberantas vandalisme? Apa nggak salah tuh, kayak nggak punya konsep aja. Semua orang merasa hal itu kurang tepat. Tapi Gunn dan Bratton tidak demikian.

Bagi mereka, jika vandalisme berhasil diatasi, maka yang lainpun akan menyusul. Maka mereka berdua pun jalan terus. Sebuah rute mereka pilih dan diujung jalan dibangun sebuah pos pembersihan. Begitu ditemukan sebuah gerbong yang jadi korban vandalisme, maka segera dibersihan di pos tersebut. Kereta yang sudah bersih akan dijaga sepanjang waktu. Gunn tahu persis, preman membutuhkan waktu 3 hari untuk beraksi. Hari pertama mereka membuat cat dasar, hari kedua memsang pola dan hari ketiga mereka mulai mencorat-coret.

Mereka membiarkan mengisi 3 hari tersebut sampai aksi corat-coret menjadi kenyataan. Tapi begitu jadi, maka hari itu juga akan dibersihkan sehingga tak ada lagi jejak mereka untuk di lihat orang lain. Pesan yang ingin disampaikan jelas, aksi vandalisme tak ada tempatnya lagi. maka, sejak saat itu vandalisme pun berangsur-angsur berkurang dan lenyap sama sekali.

Seiring dengan hal itu satu persatu fasilitas di perbaiki. Beberapa penumpang yang memiliki kebiasaan naik kereta tanpa karcis juga ditangkap, diborgol dan dijejer di loket antrian sehingga menjadi tontotan banyak orang. Kemudian orang-orang ini dibawa ke kantor polisi dengan sebelumnya di permalukan di depan orang banyak. Belakangan diketahui, satu dari sepuluh orang yang naik kereta tanpa karcis, memiliki kecenderungan kriminal. Ada yang membawa senjata tajam, narkoba dan sebagian punya catatan kriminal. Dan disitulah, para polisi menemukan penjahat-penjahat yang mereka cari seperti pencuri, pemadat, perampok, pemerkosa, pengedar uang palsu dan sebagainya.

Jadi, sudah tak selayaknya jargon diatas dipakai lagi. Kenyataannya, mustahil memberantas kejahatan-kejahatan besar jika kejahatan-kejahatan kecil dibiarkan begitu saja. Kejahatan kecil hanyalah awal saja dari kejahatan besar. Teori ini dikenal dengan Teori Broken Windows.

Bratton dan Gunn benar. Angka kejahatan di tahun 1996 merosot 75% dibanding dengan 10 tahun sebelumnya dan orang jadi lebih aman berjalan di New York.

Bagaimana dengan di Jakarta?

Selasa, Agustus 05, 2008

Jual diri

Apa yang terbersit sejenak di pikiran sampeyan saat membaca judul artikel ini? Wah, jawabannya bisa macam-macam saya kira.

Sebuah advertorial terpasang memenuhi satu halaman penuh di Koran Kompas pagi ini. Sebuah surat yang ditujukan untuk semua dari beliau yang bercita-cita ingin jadi presiden negara ini. Namun, beliau bukanlah satu-satunya yang mengajukan diri menjadi pemimpin negara ini di masa datang. Ada beberapa calon lainnya yang juga sudah aktif menjual dirinya baik melalui selebaran, poster, iklan majalah, iklan koran ataupun iklan radio dan televisi. Ada yang bertema tentang petani, nelayan, anak muda, kebangsaan bahkan tak jarang pula kemiskinan menjadi barang dagangan mereka.

Ibarat pedagang, mereka berlomba-lomba memberikan penawaran yang terbaik kepada calon pelanggannya. Ya, mereka tengah menjual dirinya. Orang-orang itu bukanlah pedagang. Jadi yang ditawarkan kepada calon pelanggan bukanlah barang atau jasa. Rata-rata mereka hanya menawarkan sebuah harapan, sebuah mimpi agar menjadi lebih baik. Ah, suatu retorika yang normatif sekali. Yang lebih aneh, ada pula yang dulunya nyaris tak terdengar (apa saya aja yang kuper?), tiba-tiba sekarang menawarkan harapan macem-macem.

Tapi khan, seorang pemimpin bukanlah pedagang. Rasanya tak pantas untuk berfikir tentang untung rugi atau minimal berfikir tentang balik modal. Lantas apa tujuannya mengiklankan diri? Coba bayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menayangkan sebuah iklan di media seperti koran dan televisi. Tentu saja tak murah bukan? Padahal biaya tersebut bisa jadi sangat berarti jika disalurkan kepada rakyat negara ini yang masih banyak di bawah garis kemiskinan. Ya, tapi khan minimal mereka perlu di kenal oleh rakyat sebagai calon pelanggannya. Pemimpin bangsa tidaklah datang secara tiba-tiba. Ia datang dari sebuah proses yang panjang. Tanpa harus beriklan secara gencar, seorang pemimpin sejati akan dengan mudah dikenal bahkan dicari dan dirindukan oleh semua orang. Rasulullah tidak pernah beriklan, tapi sampai sekarangpun beliau tetap dikenal sebagai pemimpin sejati umat.

Apakah menjual diri hanya bisa dilakukan oleh mereka?

Kenyataan menunjukan kepada kita, walapun kita telah memilih bermacam-macam tipe pemimpin, negeri ini tho tetep tak ada perubahan yang berarti. Terutama dalam hal ekonomi tentu saja. Mereka hanya over promise, under deliver. Kebanyakan janji pada saat kampanye, tapi miskin realisasi pada saat terpilih. Jadi saya pikir, Pemilu tahun depan, saya akan tawarkan pada calon pemimpin yang berani bayar paling mahal hak suara saya. Siapa yang berani menawar paling mahal, maka kepada dialah saya akan memilih.

Jika calon-calon pemimpin itu nggak ada yang berani menawar paling mahal hak pilih atas suara saya, atas dasar prinsip keadilan dan pemerataan maka saya hanya punya dua opsi. Pertama saya nggak akan memilih siapapun. Opsi yang kedua, saya akan pilih semua calon pemimpin itu. Biar adil khan? Silakan sampeyan mencemooh saya. Silakan sampeyan bilang saya mata duitan atau apalah. Yang jelas, daripada beli kucing dalam karung yang nggak jelas apa bagusnya, khan lebih baik jualan beras (kagak nyambung ya hehehe...) Jika para calon pemimpin itu boleh jualan, maka saya pun boleh dong.

Bagaimana pendapat sampeyan?

© Ilustrasi diambil dari sini.

Minggu, Agustus 03, 2008

Soal rautan mata pensil

Bisa jadi sampeyan sama dengan saya, suka ke restoran yang satu ini. Namanya Solaria. Resto ini memang disamping lumayan enak (menurut saya) dan murah, suasana juga lumayan asyik. Walaupun kalo kita cari referensi di internet, nama restoran ini reputasinya kurang begitu bagus :(

Tapi tau ndak, ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahu saya. Coba perhatikan deh kalo sampeyan sedang memesan makanan/minuman di restoran ini. Sampeyan khan dikasih daftar makanan dan sebuah pensil untuk menuliskannya menu yang dipesan. Mata pensilnya ternyata unik. Maksud saya cara merautnya itu lho. Kelihatannya seperti diraut tanpa menggunakan rautan pensil, namun menggunakan silet, cutter atau malah diraut menggunakan pisau dapur ya hehehe...

Saya jadi teringat beberapa puluh tahun yang silam. Saat saya masih menjadi murid esde yang ndeso. Rautan pensil yang dibelikan orangtua seringkali hilang. Entah ketelisut, lupa naruh atau dipinjem temen tapi lupa mbalikin. Maklum bentuk rautan pensil anak esde yang imut itu jadi sering ilangan. Begitu berulang-ulang, hingga pada akhirnya pak'e dan buk'e saya jadi bosen selalu mbeliin rautan pensil. Jadi sejak saat itu, saya meraut pensil-pensil saya dengan cutter. Dan hasil rautannya pun jadi unik tidak rapih gitu, mirip dengan pensil Solaria ini.

Tapi, seandainya benar pensil menu tersebut diraut menggunakan silet, cutter atau pisau dapur, kok menurut saya kebangeten banget ya restoran ini. Berapa sih harga rautan pensil yang agak bagusan dikit? Khan sekarang ada rautan pensil yang agak gedean yang bisa dipasang di meja. Gak mahal kok, paling 50 ribuan lah. Mosok harga segitu aja Solaria gak kuat beli. Khan bisa agak bagusan dikit rautan pensil-pensilnya. Disamping itu, juga bisa lebih cepat waktu yang diperlukan untuk meraut sebuah pensil.

Terus terang, mata saya agak sepet liat bentuk mata pensil buat nulis pesanan menu yang nggak rapih kayak gitu.