Minggu, Juni 21, 2009

Ketika kebiasaan naik metromini dibawa ke Singapore

Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Singapore. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, dimana begitu sampai Bandara kami sudah disewakan Airport Minicab yang menjemput kami menuju ke hotel, maka kunjungan kali ini tak demikian. Maklum kunjungan sebelumnya, saya bersama rombongan dan ada bos juga.


Namun, kali ini saya berkunjung ke Singapore berdua dengan Andang, salah seorang rekan kerja -- yang bisa jadi-- ini adalah kali pertama bagi dia berkunjung disini. Tanpa jemputan, maka untuk beberapa saat kami harus celingukan sesampainya di Bandara Changi. Untunglah di negara kecil di Asia Tenggara ini semuanya serba transparan. Petunjuk arah menuju pusat kota (mereka menyebutnya dengan bandar) sangat jelas diberikan di sudut-sudut bandara. Sesampainya kami di Terminal 1 kami harus oper menggunakan kereta skylift menuju Terminal 2 (T2). Kereta ini disediakan dengan cuma-cuma. Kemudian dari T2 kami harus pindah menggunakan kereta cepat MRT menuju hotel.

Tak lupa kami harus membeli kartu bayar yang disebut EZ Link Card. Harganya untuk dewasa S$ 15 yang terdiri dari biaya kartu S$ 5 dan nilai deposit kartu yang bisa digunakan S$ 10. Penggunaan kartu ini cukup mudah, kita tinggal meletakkan saja kartu tersebut di card reader yang disediakan di stasiun atau bis kota. Kemudian begitu sampai kita juga harus meletakkan kembali kartu tersebut di card reader. Di stasiun MRT fungsi lain kartu ini adalah untuk membuka pintu masuk dan keluar, maka nilai deposit kartu akan otomatis dikurangi sesuai dengan jarak perjalanan kita. Satu kartu bisa digunakan untuk kereta, bis dan beberapa jenis taksi. Wah sungguh praktis sekali ya... kapan teknologi kayak gini ada di Jakarta. Khan asyik kita nggak perlu repot-repot bawa uang tunai kemana-mana jika bepergian.

Suatu ketika, kami sedang menuju ke China Town untuk mencari makan malam. Kebetulan untuk kesana kami harus menumpang salah satu biskota dari hotel. Setelah kami menentukan nomor bis yang harus kami tumpangi berdasarkan informasi di papan informasi yang terpasang di halte, kami pun mendapatkan bis yang dimaksud, nomor 51! Tak lupa kami dekatkan si kartu bayar ini di card reader begitu kami masuk. Sepanjang perjalanan tersebut kami berusaha mengingat-ingat rute bis sambil sesekali memeriksa peta Singapura. Maklum, orang baru, takut nyasar hehehe.. walaupun kata orang nyasar di Singapura ini pasti akan balik lagi ke tempat semula, tapi khan kami tetap harus waspada :D

Saking asyiknya kami berusaha meningkatan kewaspadaan agar jangan sampai kelewatan, eh lha kok ndilalah bis ternyata udah sampai di halte yang seharusnya kami turun. Kami pun buru-buru loncat turun dari bis. Tapi eits... ada yang janggal. Begitu kami turun, kenapa bisnya nggak mau jalan lagi... "Ah, paling sopirnya mau ngetem dulu", begitu pikir kami. Kami pun bergegas menyusuri trotoar menuju China Town.

Kejanggalan tadi kami diskusikan dengan Andang.
"Kenopo yo Ndang, bis'e mau? (Kenapa ya Ndang bisnya tadi?)"
"Mbuh mas..(nggak tau mas)", jawab Andang.

Hening.
"Eh, mas.. kartu sampeyan mau wes tuts pas metu.. (eh mas.. kartumu udah di tuts belum pas keluar tadi?"
"Ketoke aku durung..emang kudu yo (kelihatnya sih belum.. emang harus ya?)", jawabku.
"Kudu ketoke mas... aku yo durung..( harus kelihatannya mas.. aku ya belum tuh..)"
"Wes jar'ne wae Ndang.. paling gak popo bekne (Udah biarin aja Ndang, nggak papa 'kali"
"Yo wes mas.. mugo-mugo gak popo"

Padahal.... sepanjang jalan Andang berusaha berpikir positif, kalopun kenapa-kenapa khan sopirnya pasti ngejar atau nyumpahin kita hehehe ... (emang sopir metromini, Ndang??)

Setelah selesai makan malam, kita pengen melanjutkan perjalanan ke Orchard Road. Dari sini kita harus menuju stasiun terdekat. Nah, distasiun itulah baru ketahuan jawabannya. Ternyata deposit kartu kita telah berkurang drastis secara otomatis sodara-sodara... masing-masing mencapai S$5 kurangnya.. padahal ongkos bis tak lebih dari S$ 0,90 ... ampuuunnnn....

Pelajaran yang bisa ditarik dari peristiwa ini, jangan sekali-kali kebiasaan naik metromini di Jakarta dibawa ke Singapore.. sampai tujuan langsung loncat turun. Walaupun tak terlalu membahayakan jiwa Anda karena si sopir bis di Singapore akan selalu setia menunggu, tapi hal itu cukup membuat kantong Anda shock sejenak. Waspadalah.. waspadalah!!! :((

Update info:
Sepulang dari Singapore, saya kebetulan sempat berbincang dengan sopir salah satu taksi terkenal di Jakarta perihal sistem pembayaran kartu. Perusahaan taksi ini menggunakan sistem komisi terhadap sopir-sopir yang menjalankan taksinya. Sopir tsb. bilang, di perusahaan taksinya sekarang pun telah menggunakan sistem voucher yang malah dikeluhkan oleh para sopir. Lho, kok bisa? khan malah lebih enak, sopir nggak repot-repot nyari kembalian penumpang? Ternyata, bagi seorang sopir, uang yang diterima, biasanya juga termasuk digunakan untuk makan. Pernah ada cerita, temennya seharian penuh hanya mendapat voucher saja. Hal ini mengakibatkan seharian itu pula dia tak dapat makan sedikitpun karena tak dapat uang tunai. Sampai badannya pucat dan ditolong oleh rekan sopir yang lain. Coba bayangkan jika nanti sistem pembayaran kartu seperti EZ Link di Singapore diterapkan di perusahaan taksi ini???

Di perusahaan ini, voucher tak bisa diuangkan jika sopir belum sampai pool. Voucher tersebut juga tak bisa diperjualbelikan antar sopir. Jika ketahuan, manajemen perusahaan akan memberi tindakan tegas. Repot ya, ternyata sistem yang bagus kayak apapun akan sulit jika mau diterapkan di Indonesia.
Oh, inilah potret negeriku... ** sedih..

Kamis, Mei 28, 2009

Mampir di Solo, sarapan nasi liwet

Setiap pulang ke kampung halaman, saya dan keluarga selalu melewati Kota Solo. Namun jarang sekali kami singgah di kota itu. Maklum, biasanya ketika kami melewati kota ini, hari sudah malam atau dinihari. Nah, kebetulan pada saat kemaren (21/05/2009) kita melewati kota ini untuk kesekian kalinya, hari masih pagi. Kira-kira jam 7-an. Sebelum meneruskan perjalanan, kami coba untuk singgah sejenak mencari pengganjal perut yang mulai keroncongan.


Awalnya saya ingin mencari bubur ayam saja buat menu sarapan pagi itu. Namun sayang, mungkin belum beruntung saja, si tukang bubur ayam di Kota Solo ini kok masih belum nongol-nongol juga. Nggak seperti di Jakarta yang dapat dengan mudah kita jumpai di berbagai sudut kota.

Akhirnya pilihan kita jatuh pada nasi liwet, makanan lesehan yang banyak tersebar di emperan toko. Setelah mencari beberapa tempat yang kira-kira "agak nyaman" kami pun akhirnya singgah di lapak Warung Liwet Bu Hadi yang berada di pinggir Jl. Yos Sudarso Solo.

Pagi itu, lapak Bu Hadi lumayan ramai oleh pengunjung. Kami pun memesan 6 bungkus nasi liwet. Terus terang, ini adalah baru pertama kalinya saya menikmati nasi liwet ala Solo (** katrok ya?) Tak lama kemudian, nasi liwet pesanan kami pun tiba. Uniknya, makanan ini disuguhkan bukan di tempat makan seperti piring atau mangkok, namun menggunakan daun pisang berlapis dua yang di salah satu ujungnya di-"sunduk" dengan tusuk gigi terbuat dari bambu.

Seporsi nasi liwet terdiri dari nasi, sepotong ayam kampung, dan sayur pepaya muda. Hmmm... sungguh nikmat sekali. Apalagi ditambah dengan segelas besar "wedang" teh. Sungguh nikmat disantap di kala pagi. Exciting sekali lah.. Ditambah lagi harganya yang lumayan murah... hmmm... enak sekali.

Wah, kapan-kapan kayaknya saat lewat Solo rugi banget jika tak mampir menikmati nasi liwet di pagi hari. Yukkk maree....

Selasa, Mei 12, 2009

Memanggil Webservice Menggunakan Ms Visual Basic 6

STUDI KASUS: MEMANGGIL WEBSERVICE BC1.1 DI INSW

Kali ini saya akan menuliskan tentang cara memanggil sebuah method di webservice dengan menggunakan M$ Visual Basic 6. Agar lebih mantap dan aplikatif, maka saya juga menggunakan studi kasus untuk memanggil sebuah method yang telah tersedia di webservice di INSW.

Sekilas Info Tentang Data BC1.1
Data BC1.1 adalah salah satu contoh data pre-notification untuk pengiriman dokumen impor. Seringkali untuk mendapatkan data ini, importir/PPJK mengalami kesulitan. Data BC1.1 merupakan data respon dari KPBC untuk perusahaan pengangkutan (baca: shipping agent) terkait dengan pengiriman dokumen manifestnya tersebut. Setiap 1 pos di dokumen manifes biasanya terhubung dengan 1 dokumen PIB dengan menggunakan parameter data BC1.1 tersebut. Oleh karena demi peningkatan pengawasan arus barang masuk di pelabuhan, maka sejak diberlakukannya implementasi sistem PDE Manifes, Bea Cukai mewajibkan informasi data BC1.1 tercantum disetiap dokumen PIB yang di kirim ke KPBC oleh importir/PPJK.

Mulai melakukan pemrograman
Sebelum melakukan pemrograman pemanggilan service menggunakan VB6, maka terlebih dahulu kita harus melakukan instalasi SOAP Toolkit yang bisa didownload di website Micro$oft. Software ini merupakan software yang dapat diunduh gratis berisi library-library SOAP yang bisa digunakan oleh VB6.

Alamat webservice BC1.1 adalah di http://services.insw.go.id/BC11Services/Services mempunyai satu method yang bisa di invoke yaitu CekBC11. Informasi detail tentang method Cek BC11 bisa ditemukan di WSDL yang disertakan. Disana kita melihat terdapat 2 parameter input yaitu string dan string0. Penjelasan tentang method tersebut dapat diringkas menjadi tabel sebagai berikut.

Parameter yang digunakan pada saat pemanggilan adalah Nomor dan Tanggal Bill of lading. Data ini sangat spesifik dan biasanya sudah cukup dikenal oleh para importir mengingat data ini merupakan salah satu dokumen pendukung yang "wajib" ada saat mengirimkan PIB disamping invoice.

Selanjutnya, kita buka software M$ Visual Basic 6. Buat sebuah project baru (Standar exe) kemudian buat satu form yang terdiri dari textbox dan tombol-tombol seperti contoh dibawah ini dan berilah nama variabel di masing-masing obyek tersebut.

Jangan lupa, kita juga harus membuat referensi ke library SOAP Toolkit yang telah kita instal tadi. Langkahnya:
- Buka menu Projects | References
- Cari library Micro$oft SOAP Type Library v3.0

- Kemudian klik tombol OK.

Kita mulai men-coding!
Pada form yang telah kita buat tadi, klik di tombol cmdInvoke ("Get BC1.1") ikut isikan baris sebagai berikut.
Private Sub cmdInvoke_Click()
Dim wsClient As SoapClient30
Dim strWSDL As String
Dim strResult As String
Dim noBL As String
Dim tgBL As String

Set wsClient = New SoapClient30
strWSDL = "http://services.insw.go.id/BC11Services/Services?WSDL"

noBL = txtNoBL.Text
tgBL = Format(txtTgBL.Value, "DD-MM-YYYY")

wsClient.MSSoapInit strWSDL
strResult = wsClient.cekBC11(noBL, tgBL)

Text2.Text = strResult
End Sub

Selanjutnya jalankan (Run) program yang kita buat ini. Masukan paramater Nomor BL dan Tanggal BL yang valid. Contoh response yang kita dapatkan akan keluar string sbb:
001476|22/04/2009|0001.0000.0000|040000|MT. LAUREN|04|PT INDORAMA SYNTHETICS TBK,
Langkah selanjutnya kita bisa lakukan parsing data tersebut untuk digunakan lebih lanjut.
Mudah, bukan? Selamat mencoba!

Kamis, April 16, 2009

Asap pesawat? Betulkah itu tidak berbahaya? Bagaimana jika chemtrails?

Pada suatu pagi yang cerah di bulan April 2009, kami sedang mengendarai kendaraan menuju kantor. Di atas jalan tol, tak sengaja mataku menatap sebuah garis putih menyerupai awan tegak lurus menghias langit pagi itu. Mungkin itu adalah fenomena biasa. Tapi itu bukan awan, karena garis itu terus bergerak dan semakin memanjang.


Menurut istriku, bisa saja itu adalah asap sebuah pesawat. Menurutku juga demikian. Tapi untuk apa pesawat itu mengeluarkan asap seperti itu? Apakah ada keadaan darurat diatas sana? Pertanyaan seperti itu menyelimuti benakku sepanjang jalan, namun pertanyaan itu hilang sesampainya aku dikantor.

Sore kemaren aku mendapatkan sebuah pesan dari sebuah group di Facebook yang aku ikuti. Isinya tentang adanya operasi intelijen asing yang menyebarkan bibit penyakit menggunakan media chemtrails, yaitu menyebarkan bahan-bahan kimia dan biologis di ketinggian tertentu pada suatu area untuk maksud tertentu.
Teror maut mengancam warga Jakarta dan sekitarnya! Sejak awal 2007 hingga saat ini, disinyalir sejumlah pesawat asing kerap menyebarkan ethylene bromide dan debu micro fiber demi operasi intelijen “control population”.

Jejak-jejak kimia (chemical trails/chemtrails) yang disemprotkan pesawat asing itu berisi aerosol bermuatan virus maut. Chemtrails disemprotkan di atas langit Jakarta untuk “mempersiapkan” warga Jakarta dan sekitarnya “menerima” virus flu burung (H5N1) yang telah dimodifikasi.
Nah, pas aku cari-cari referensi di Google tentang Chemtrail ini, kok dapetnya serem-serem ya.

Hampir disemua situs yang membahas tentang chemtrail ini mengatakan bahwa ini adalah bahan berbahaya berupa aerosol dan memang telah terbukti disinyalir digunakan untuk operasi-operasi militer tingkat tinggi. Serem gak tuh??

Lihat beberapa hal yang saya temukan tentang chemtrails ini di Google. Bagaimana menurut sampeyan?

Referensi:
- http://www.theforbiddenknowledge.com/chemtrails/
- http://www.geocities.com/canadianchemtrails/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Chemtrail_conspiracy_theory
- dll, cari sendiri deh :p

** gambar saya ambil dari sini karena bentuknya hampir mirip dengan yang saya lihat waktu itu dan kebetulan saat melihat awan itu saya tak sempat memotretnya.

Selasa, Maret 31, 2009

Belajar Mapping Dokumen UN/EDIFACT Menggunakan Software AtlasEDI/ PalapaDI

Pada tulisan sebelumnya kita telah mempelajari bagaimana proses mapping dokumen UN/EDIFACT, kali ini saya akan mengajak sampeyan untuk mempelajari lagi bagaimana caranya melakukan mapping dokumen menggunakan software EDI Enabler yang lain. Sebenarnya banyak sekali sofware translator dokumen EDI yang bisa digunakan. Salah satunya adalah AtlasEDI.

AtlasEDI merupakan salah satu software EDI Enabler yang dikembangkan pertama kali oleh Atlas Product International. Kemudian diakhir hayatnya sempat pula dikelola oleh Harbinger Corporation, salah satu perusahaan di Inggris. Saya sendiri sempet merasakan nguprek software ini mulai dari yang versi AIX, versi DOS dan terakhir adalah versi Windows (versi 4.2.x).

Pada perkembangannya, ternyata software ini di Indonesia kemudian bermutasi nama menjadi PalapaDI, yang dikembangkan oleh salah satu software house lokal Indonesia. Pada jaman kejayaannya (tahun 1990-an), software ini merupakan salah satu software EDI yang cukup mumpuni. Disamping sebagai translator EDIFACT, juga menyediakan fasilitas koneksi dengan berbagai protokol komunikasi, dari protokol proprietary hingga teknologi TCP/IP yang kala itu baru mulai ngetrend.

Sebagai contoh case study untuk sharing knowledge kali ini, saya masih tetap menggunakan dokumen PIB yang telah kita pelajari sebelumnya. Langkah-langkah melakukan mapping dokumen UN/EDIFACT di software ini adalah sebagai berikut.

Membuat Table Maintenance
Fungsi table maintenance ini sama persis dengan file EDF yang pernah saya sampaikan sebelumnya yaitu digunakan untuk menginterpretasikan struktur global message UN/EDIFACT yang telah kita tentukan. Jika sampeyan lupa, silakan baca kembali tulisan saya sebelumnya. Untuk masuk ke menu ini, sampeyan bisa masuk ke software kemudian pilih menu Administration | Message Table Maintenance.

Setelah muncul form seperti diatas, selanjutnya pilih tombol Add maka akan muncul layar Message table maintenance. Terlebih dulu pilih tab Header. Isikan kolom-kolom tersebut sesuai dengan informasi yang terdapat dalam PIA. Misalnya sbb.

Kemudian klik tombol Segment. Pada layar ini terdapat beberapa isian yaitu:

  • Label, merupakan label rekord yang didefinisikan di PIA
  • Level, merupakan level segment tag UN/EDIFACT yang dipakai. Jika ada kesempatan, saya akan tuliskan apa yang dimaksud dengan hal ini.
  • Repeat, merupakan jumlah perulangan yang dijinkan dalam segment group atau tag itu.
  • G.M/C, merupakan scope perulangan dari segment group, apakah mandatory atau conditional. Jika tidak didefinisikan C atau M, maka tag tersebut bukan merupakan kepala segment group.
  • M/C, adalah scope kemunculan dari tag itu sendiri.
  • Segment, merupakan jenis-jenis tag element UN/EDIFACT yang dipakai.
  • Description merupakan keterangan dari masing-masing tag.
Sampeyan bisa gunakan tombol-tombol di layar ini;
  • Insert --> untuk menyisipkan tag baru diantara tag-tag yang sudah ada.
  • Add --> untuk menambahkan tag baru diakhir tag
  • Delete --> untuk menghapus tag yang sudah diisikan.
Untuk menyimpan semua setting Table Maintenance ini, silakan klik tombol OK.

Melakukan Mapping Data
Proses ini hampir mirip pada saat kita membuat file HDF ditulisan sebelumnya. Klik menu Administration | Translation Setting | Data Mapping. Muncul layar Table selection, kemudian pilihlah dokumen yang akan diedit. Misalnya DOKPIB, kemudian klik tombol Edit.

Kemudian akan muncul form sebagai berikut lakukan editing terhadap tag-tag element yang diperlukan. Pastikan bahwa semua tag element telah dimasukan sesuai dengan kebutuhan yang terdapat dalam PIA.

Langkah terakhir tentu saja melakukan pengetesan terhadap pekerjaan tersebut diatas. Caranya? Untuk melakukan translate dokumen dari flat file ke bentuk EDIFACT gunakan menu Data Processing | Export Translation.

Selamat mencoba!