Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 21, 2009

Ketika kebiasaan naik metromini dibawa ke Singapore

Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Singapore. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, dimana begitu sampai Bandara kami sudah disewakan Airport Minicab yang menjemput kami menuju ke hotel, maka kunjungan kali ini tak demikian. Maklum kunjungan sebelumnya, saya bersama rombongan dan ada bos juga.


Namun, kali ini saya berkunjung ke Singapore berdua dengan Andang, salah seorang rekan kerja -- yang bisa jadi-- ini adalah kali pertama bagi dia berkunjung disini. Tanpa jemputan, maka untuk beberapa saat kami harus celingukan sesampainya di Bandara Changi. Untunglah di negara kecil di Asia Tenggara ini semuanya serba transparan. Petunjuk arah menuju pusat kota (mereka menyebutnya dengan bandar) sangat jelas diberikan di sudut-sudut bandara. Sesampainya kami di Terminal 1 kami harus oper menggunakan kereta skylift menuju Terminal 2 (T2). Kereta ini disediakan dengan cuma-cuma. Kemudian dari T2 kami harus pindah menggunakan kereta cepat MRT menuju hotel.

Tak lupa kami harus membeli kartu bayar yang disebut EZ Link Card. Harganya untuk dewasa S$ 15 yang terdiri dari biaya kartu S$ 5 dan nilai deposit kartu yang bisa digunakan S$ 10. Penggunaan kartu ini cukup mudah, kita tinggal meletakkan saja kartu tersebut di card reader yang disediakan di stasiun atau bis kota. Kemudian begitu sampai kita juga harus meletakkan kembali kartu tersebut di card reader. Di stasiun MRT fungsi lain kartu ini adalah untuk membuka pintu masuk dan keluar, maka nilai deposit kartu akan otomatis dikurangi sesuai dengan jarak perjalanan kita. Satu kartu bisa digunakan untuk kereta, bis dan beberapa jenis taksi. Wah sungguh praktis sekali ya... kapan teknologi kayak gini ada di Jakarta. Khan asyik kita nggak perlu repot-repot bawa uang tunai kemana-mana jika bepergian.

Suatu ketika, kami sedang menuju ke China Town untuk mencari makan malam. Kebetulan untuk kesana kami harus menumpang salah satu biskota dari hotel. Setelah kami menentukan nomor bis yang harus kami tumpangi berdasarkan informasi di papan informasi yang terpasang di halte, kami pun mendapatkan bis yang dimaksud, nomor 51! Tak lupa kami dekatkan si kartu bayar ini di card reader begitu kami masuk. Sepanjang perjalanan tersebut kami berusaha mengingat-ingat rute bis sambil sesekali memeriksa peta Singapura. Maklum, orang baru, takut nyasar hehehe.. walaupun kata orang nyasar di Singapura ini pasti akan balik lagi ke tempat semula, tapi khan kami tetap harus waspada :D

Saking asyiknya kami berusaha meningkatan kewaspadaan agar jangan sampai kelewatan, eh lha kok ndilalah bis ternyata udah sampai di halte yang seharusnya kami turun. Kami pun buru-buru loncat turun dari bis. Tapi eits... ada yang janggal. Begitu kami turun, kenapa bisnya nggak mau jalan lagi... "Ah, paling sopirnya mau ngetem dulu", begitu pikir kami. Kami pun bergegas menyusuri trotoar menuju China Town.

Kejanggalan tadi kami diskusikan dengan Andang.
"Kenopo yo Ndang, bis'e mau? (Kenapa ya Ndang bisnya tadi?)"
"Mbuh mas..(nggak tau mas)", jawab Andang.

Hening.
"Eh, mas.. kartu sampeyan mau wes tuts pas metu.. (eh mas.. kartumu udah di tuts belum pas keluar tadi?"
"Ketoke aku durung..emang kudu yo (kelihatnya sih belum.. emang harus ya?)", jawabku.
"Kudu ketoke mas... aku yo durung..( harus kelihatannya mas.. aku ya belum tuh..)"
"Wes jar'ne wae Ndang.. paling gak popo bekne (Udah biarin aja Ndang, nggak papa 'kali"
"Yo wes mas.. mugo-mugo gak popo"

Padahal.... sepanjang jalan Andang berusaha berpikir positif, kalopun kenapa-kenapa khan sopirnya pasti ngejar atau nyumpahin kita hehehe ... (emang sopir metromini, Ndang??)

Setelah selesai makan malam, kita pengen melanjutkan perjalanan ke Orchard Road. Dari sini kita harus menuju stasiun terdekat. Nah, distasiun itulah baru ketahuan jawabannya. Ternyata deposit kartu kita telah berkurang drastis secara otomatis sodara-sodara... masing-masing mencapai S$5 kurangnya.. padahal ongkos bis tak lebih dari S$ 0,90 ... ampuuunnnn....

Pelajaran yang bisa ditarik dari peristiwa ini, jangan sekali-kali kebiasaan naik metromini di Jakarta dibawa ke Singapore.. sampai tujuan langsung loncat turun. Walaupun tak terlalu membahayakan jiwa Anda karena si sopir bis di Singapore akan selalu setia menunggu, tapi hal itu cukup membuat kantong Anda shock sejenak. Waspadalah.. waspadalah!!! :((

Update info:
Sepulang dari Singapore, saya kebetulan sempat berbincang dengan sopir salah satu taksi terkenal di Jakarta perihal sistem pembayaran kartu. Perusahaan taksi ini menggunakan sistem komisi terhadap sopir-sopir yang menjalankan taksinya. Sopir tsb. bilang, di perusahaan taksinya sekarang pun telah menggunakan sistem voucher yang malah dikeluhkan oleh para sopir. Lho, kok bisa? khan malah lebih enak, sopir nggak repot-repot nyari kembalian penumpang? Ternyata, bagi seorang sopir, uang yang diterima, biasanya juga termasuk digunakan untuk makan. Pernah ada cerita, temennya seharian penuh hanya mendapat voucher saja. Hal ini mengakibatkan seharian itu pula dia tak dapat makan sedikitpun karena tak dapat uang tunai. Sampai badannya pucat dan ditolong oleh rekan sopir yang lain. Coba bayangkan jika nanti sistem pembayaran kartu seperti EZ Link di Singapore diterapkan di perusahaan taksi ini???

Di perusahaan ini, voucher tak bisa diuangkan jika sopir belum sampai pool. Voucher tersebut juga tak bisa diperjualbelikan antar sopir. Jika ketahuan, manajemen perusahaan akan memberi tindakan tegas. Repot ya, ternyata sistem yang bagus kayak apapun akan sulit jika mau diterapkan di Indonesia.
Oh, inilah potret negeriku... ** sedih..

Kamis, Juni 05, 2008

Raket nyamuk, terbukti lebih efektif membasmi nyamuk

Sudah beberapa hari ini, raket nyamuk dirumah rusak. Aku sih sudah betulin 2 minggu kemaren. Itu pun harus dengan susah payah, karena tak semudah dibayangkan. Raket nyamuk ini memang telah lama dipakai di rumah. Kebetulan rumah kami yang berada di perkampungan, banyak sekali nyamuknya. Apalagi kalo cuaca panas seperti sekarang ini. Jika musim hujan, nyamuk memang tak banyak berkeliaran. Tapi kalo cuaca panas... huhhh jangan ditanya.

Bisa jadi, raket nyamuk bagi warga Jakarta, merupakan salah satu kebutuhan yang dianggap vital juga. Bayangkan, nyamuk yang notabene merupakan binatang malam, di Jakarta bisa keluar siang-siang :D. Nggigitnya nggak kira-kira. Maka setiap saat kita harus waspada terhadap binatang yang satu ini. Jika lengah, bentol-bentol kulit kita dibuatnya. Itu di kampung saya, yang nggak terlalu padat dan sanitasinya nggak terlalu buruk. Lha, gimana yang tinggalnya di pemukiman padat dengan sanitasi yang jorok? Wehhh... nggak cuman bentol aja 'kali..

Raket nyamuk memang bukan satu-satunya cara untuk mengusir nyamuk. Beberapa cara yang pernah kami gunakan untuk mengusir nyamuk adalah :

  • tepokan tangan, ini cara konvensional ngusirin nyamuk, yang jelas mata harus awas dan sinergi dengan gerakan tangan untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Tingkat efektifitas tinggi, jika gerakan tangan lincah dan tepat mengenai sasaran.
  • obat nyamuk semprot, srot-srot bikin kotor tembok dan lantai. Kadang tak tahan dengan baunya yang bisa bikin batuk. Makanya sekarang nggak kami pakai lagi. Efektifitas tinggi.
  • obat nyamuk bakar, bentuknya melingkar-lingkar kayak ular. Yang paling nggak suka karena asapnya itu lho, bikin batuk. Coba kalo produsennya bikin obat nyamuk bakar yang gak pake asap, mungkin sampai sekarang masih kami pakai. Efektifitas diragukan, karena kita tak tau dimana jasad nyamuk berada.
  • obat nyamuk elektrik, bentuknya kotak-kotak berwarna biru. Baunya khas dan tak menimbulkan asap. Cuman sayang, dia nyedot listrik sepanjang malam dengan daya 5 watt. Tapi alat ini sampai sekarang masih kami pakai. Efektifitas lumayan, minimal kita kerasa nyaman karena nyamuk sudah tak nguing-nguing bikin pusing kepala.
  • lotion anti nyamuk, baunya yang harum. Lumayan efektif dan disukai si Lintang. Tapi karena ada info yang katanya nggak baik untuk kulit untuk digunakan terus-menerus, jadi sekarang udah gak pake lagi. Efektifitas lumayan lah. Walau tak bisa maksimal, tapi minimal badan jadi harum..hehehe...
  • raket nyamuk, nah ini dia alat pengusir nyamuk yang menurut saya sangat efektif. Disamping bisa ngusirin nyamuk, badan bisa bergerak. Jadi disamping nyamuk mati, badan juga bisa berolahraga hehehe... Suaranya drett..drettt itu bikin hati puas. Kalo belum puas, begitu nyamuk kena jaring, disetrum aja sampai hangus dan berasap... (kata nyamuk --> oh sungguh kejam manusia..). Efektifitas maksimal, puas lahir dan batin.
Nah, dari ketiga cara tadi, raket nyamuk terbukti masih merupakan yang terbaik dalam fungsinya membunuh nyamuk.

Namun, raket nyamuk dirumah masih rusak juga, walaupun aku udah betulin sampai kesetrum-setrum. Ya, sudahlah mendingan beli baru aja.

Minggu, Juni 01, 2008

Pancasila yang terlupa

Pancasila

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Apakah masih ingat dengan teks tersebut?
Ternyata banyak juga dari kita yang sudah tak ingat lagi dengan urutan teks tersebut. Bahkan saat ini tak jarang dari pegawai pemerintah pun telah melupakan teks tersebut.

Teks Pancasila yang kita kenal saat ini diperkenalkan pertama kali oleh mantan Presiden Pertama RI, Sukarno pada 1 Juni 1945. Oleh karena itu, setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Sebelum Pancasila diperkenalkan, sejarah mencatat ada beberapa usulan tentang falsafah berbangsa. Antara lain Lima Dasar yang diperkenalkan oleh Muh. Yamin pada 29 Mei 1945 dan Panca Darma yang diperkenalkan oleh Supomo pada 31 Mei 1945. Pancasila dikenal sebagai falsafah, pandangan hidup dan dasar negara RI.

Trus, apakah ngefek jika kita tak hafal dengan urutan teks Pancasila? Dulu sih sewaktu masih sekolah, kami harus hafal dengan urutan teks Pancasila. Bahkan tak hanya itu, butir-butir pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila (P4) yang 45 butir itupun kami harus hapalkan. Kalo enggak, tentu saja kami tak lulus di matapelajaran PMP (Pelajaran Moral Pancasila <-- masih ada nggak sih matapelajaran ini). :D

Sekarang, waktu mungkin telah berubah. Boro-boro mau menghayati dan mengamalkan Pancasila, energi rakyat Indonesia telah terkuras habis untuk memikirkan harga-harga yang pada naik menyusul kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah. Padahal pemerintah belum bisa membuat rakyatnya sejahtera. Bagaimana mungkin mau memikirkan Pancasila, jika mikir perut yang keroncongan saja masih bingung? Tapi semoga ini, hanya opini saya yang salah. Karena saat ini yang telah melupakan Pancasila tidak hanya dari kalangan ekonomi menengah kebawah, tapi juga merata. Masyarakat dengan golongan ekonomi menengah keataspun juga banyak yang lupa teks Pancasila.

Rakyat Indonesia mungkin masih banyak yang mengakui dan berserah diri kepada Tuhan YME. Negara boleh jadi masih melindungi kebebasan rakyatnya untuk menganut dan menjalankan agamanya. Namun, kekerasan masih terjadi dimana-mana. Bahkan hari ini ada kekerasan yang dilakukan oleh satu kelompok yang mengatasnamakan pembela agama untuk tindakan penyerangan pada kelompok lain. Masyaalllah... inikah bukti bahwa nilai-nilai luhur Pancasila sudah tak menjadi bagian dari kehidupan rakyat Indonesia?

Oh, Pancasila.
Satu persatu nilai-nilai luhur Pancasila sudah tak lagi hinggap di hati bangsa ini dalam kehidupan sehari-hari. Rasa persatuan, nilai musyarawah untuk mufakat, nilai keadilan dan kemanusiaan telah pudar seiring perjalanan waktu. Mungkinkah Pancasila sudah tak cocok lagi sebagai falsafah, pandangan hidup dan dasar berbangsa kita?

Sumber bacaan:
[1] Soekarno, Pancasila, dan Sejarah Teks, http://handsoff.blog.dada.net/post/731595/Soekarno,+Pancasila,+dan+Sejarah+Teks, diakses pada 1 Juni 2008
[2] Irfan Anshory, Omong-omong tentang Pancasila, http://irfananshory.blogspot.com/2007/11/omong-omong-tentang-pancasila.html, diakses pada 1 Juni 2008

Kamis, September 13, 2007

Marhaban Ya Ramadhan

Sejak pagi kemaren suasana jalanan Jakarta lebih longgar daripada biasanya. Maklum anak-anak sekolah sudah mulai libur hingga Senin, 17 September 2007. Demikian pula dengan Lintang anakku. Namun karena ibunya masih berada di luar kota karena tugas, maka si Lintang aku ajak aja ke kantor.

Siang hari, seperti biasa, kantor ngadain acara makan siang bersama sambil bersilahturahmi dengan seluruh karyawan. Acaranya memang tidak seperti acara Friday Breakfast yang selama ini diadakan sebulan 2 kali. Biasanya acara Friday Breakfast sepi peserta. Namun, kemaren sungguh luar biasa. Pesertanya membludak, dan inilah ajang ketemu dengan rekan-rekan sekerja yang selama ini karena kesibukan masing2 jarang bertemu. Kami semua saling berjabat tangan, mencoba membersihkan hati dan fikiran agar lebih mantap memasuki bulan suci dan khusu' menjalankan puasa hingga nanti sampai bertemu Idul Fitri.

Memang Ramadhan adalah bulan yang luar biasa. Jadwal kerja selama bulan puasapun mengalami penyesuaian. Masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Top dah...

Alhamdulillah, selayaknya ucapan ini di panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan pada kita untuk bertemu dengan bulan yang mulia, Bulan Ramadhan. Ramadhan memang memberikan sesuatu yang lebih daripada bulan -bulan yang lain.

Tapi ngomong2, sahur pertama nanti tentu repot sekali nich, maklum harus nyiapin sendiri. Btw, nggak papa, anggap aja ini ujian kesabaran tingkat pertama. :D

Marhaban ya ramadhan...

Senin, November 13, 2006

Airport Tax kenapa beda?

Selama ini mungkin saya dan juga Anda setiap bepergian menggunakan pesawat terbang, pasti dikenakan tambahan biaya sebelum memasuki ruang tunggu keberangkatan pesawat yang didikenal dengan sebutan airport tax.

Airport tax atau disebut juga Passanger Service Charge (PSC) atau dibahasakan menjadi Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) merupakan pelayanan yang diberikan kepada setiap penumpang di terminal bandar udara baik di terminal keberangkatan (departure) maupun di terminal kedatangan (arrival). Pelayanan ini diusahakan oleh Badan Usaha Kebandarudaraan yang merupakan biaya kompensasi yang dibebankan kepada penumpang pesawat udara yang berangkat melalui bandar udara yang bersangkutan karena ikut memanfaatkan jasa-jasa pelayanan dan penggunaan fasilitas terminal bandar udara tersebut.


Saya sendiri selama ini nggak begitu memperhatikan besarnya biaya airport tax setiap kali bepergian. Maklum, mau banyak atau sedikit biayanya nggak ngaruh, lha wong nantinya kantor yang ngganti. Namun, karena pesawat yang mau saya tumpangi ke Jakarta agak telat, iseng2 jadi pengen tahu kenapa sih biaya airport tax berbeda di setiap Bandara. Ada yang murah ada yang mahal, padahal fasilitas yang diberikan nggak jauh-jauh amat.

Ambil contoh, di Bandara Hang Nadim saat ini saya membayar airport tax Rp. 13.000, padahal ketika waktu berangkat ke Batam di Bandara Sukarno Hatta biaya airport tax-nya Rp. 30.000. Why? Padahal keduanya merupakan Bandara Internasional statusnya. Layanannya juga hampir sama. Malah di ruang tunggu Bandara Hang Nadim Batam terdapat hotspot internet gratis, yang tidak akan kita jumpai di Bandara Internasional Sukarno Hatta yang memungkinkan penumpang dapat berinternet ria dengan kecepatan tinggi saat harus nunggu pesawat. Kalo mengacu ke definisi diatas harusnya malah biaya airport tax di Bandara Internasional Hang Nadim Batam lebih mahal di banding di Sukarno Hatta (????)

Kenapa ya? Ada yang tau gak??

Selasa, Agustus 29, 2006

Kerja adalah cinta

Tanpa sengaja tadi sore saya membuka weblog kawan lama yang dulu juga bekerja perusahaan ini. Kebetulan saat ini kawan saya ini sudah diterima bekerja di perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia. Beberapa paragrap awal tulisannya membuat saya tercengang. Bagaimana tidak? Disitu kawan ini secara tersirat menuliskan kekecewaannya saat bergabung di perusahaan kami. Walaupun pada akhir tulisan tetap menuliskan bahwa dia senang sekali pernah bergabung hampir 2 tahun disini, namun jelas sekali aroma kekecewaan terhadap (salah satu manager?) manajemen disini. Itu yang bisa saya tangkap. Entahlah..

Terus terang, perasaan seperti itu juga mungkin nggak hanya kawan saya ini mengalaminya. Bahkan, mungkin banyak diantara karyawan yang saat ini masih setia bergabungpun mengalami hal tersebut, apalagi saya.

Saya telah bergabung hampir 10 tahun di perusahaan ini. Banyak kawan yang datang dan pergi silih berganti. Perubahan manajemen berulang kali. Perubahan kepemilikan perusahaan. Namun tidak serta merta mengangkat posisi saya ke jenjang promosi yang lebih tinggi. Tetep aja pada posisi sebagai staf biasa. Dan hal ini dialami hampir sebagian kawan-kawan yang masih setia di perusahaan ini. Bahkan pernah kejadian, untuk mendapatkan promosi yang telah bertahun-tahun seret dan tiada kunjung tiba, kami - kawan-kawan seperjuangan harus mati-matian meyakinkan manajemen bahwa memang kami layak diposisi tersebut. Apapun syaratnya. Anehnya, hal ini tidak berlaku untuk sebagian karyawan baru. Mereka bisa saja tiba-tiba berada pada posisi menengah bahkan level manajemen. Padahal yang berlaku untuk saya, agar diakui di level menengah butuh waktu hampir 10 tahun! Bagi yang nggak kuat, ya keluar.

Mungkin kesalahan ada pada saya dan bahkan pada kawan-kawan senasib. Kami salah memilih orientasi bekerja. Padahal sebelumnya kami sangat heroik bahkan sampai saat ini. Kami mau bekerja lembur tanpa dibayar perusahaan, bekerja dalam tekanan, bekerja dengan pola matriks yang nggak keruan hanya untuk menyukseskan suatu project strategis perusahaan, ditengah banyak pula kawan yang bertindak sebaliknya. Namun seperti biasa, setelah project berhasil, kami seakan dilupakan. Boro-boro mendapat bonus tambahan tengah semester (terakhir nggak ada peningkatan khan?), acungan jempolpun kadang terlewatkan. Padahal saya melihat ada sebagian orang yang ongkang kaki tak terlihat hasil kerjanya namun tetap dibayarkan gajinya oleh perusahaan. Hmmmm....

Akhirnya, sempet saya sakit hati sendiri. Lingkungan saya seakan ikut andil mendorong rasa kecewa saya ini. Bayangkan, kenaikan harga-harga kebutuhan hidup telah beberapa kali lipat, sedangkan gaji lama banget naiknya. Bahkan sempat tertunda. Walaupun akhirnya naik juga, tapi nggak bisa di padankan dengan standar gaji perusahaan lainnya untuk posisi saya sekarang. Kecewa, jengkel, berburuk sangka menghias hati ini. Mungkinkan manajemen perusahaan sudah nggak memperhatikan nasib karyawannya???

Tadi siang pula, di milis alumni sekolah menengah saya, salah seorang adik kelas saya dulu sudah mendapat promosi dan duduk sebagai manager di salah satu perusahaan telekomunikasi selular yang lain yang juga terbesar di Indonesia. Saya ucapkan selamat atas keberhasilannya, saya ikut bersyukur. Atau cerita adik ipar saya yang juga telah menjabat sebagai manager di perusahaan besar otomotif, ikut memberi andil memunculkan nilai -nilai negatif hati ini. Saya kembali melihat kedalam, apakah ada yang salah dengan diri saya?

Memang sempat beberapa kali saya "nyaris" meninggalkan perusahaan ini. Ada harapan baru di setiap upaya tersebut. Bahkan ada pihak yang terang-terangan mencoba membujuk saya untuk pindah kerja, mengajak training ke luar negeri asal mau bergabung ke perusahaannya. Namun, hampir setiap kali saya mencoba keluar dari perusahaan ini, suara hati saya mengajak untuk bertahan. Entah kenapa. Pasti Anda akan mengatakan saya orang yang naif, bodoh atau apalah. Padahal kalo mau dibanding-bandingkan, jelas perusahaan-perusahaan yang baru menawarkan hal-hal lebih yang jauh dari yang sudah didapatkan di perusahaan ini. Tapi mengapa suara hati itu mengajak saya bertahan??

Malam ini tanpa sengaja saya membaca buku ESQ-nya Pak Arry Ginanjar, dimana istri saya dulu sempat ikut training tersebut. Hati ini tersentak. Kembali teringat dengan semua perjalanan hidup ini. Disitu jelas dikatakan, bahwa semua jalan hidup manusia itu ditentukan oleh Allah. Dan segala sesuatu harus menggunakan kaidah-kaidah Tuhan. Semua hanyalah cobaan Allah. Kaya atau miskin hanya cobaan. Pesuruh atau bos itu juga hanya cobaan. Yang terpenting harus jujur pada diri sendiri. Jangan mengutamakan simbol atau status. Itu tidak jujur namanya. Sebab hanya demi sebuah simbol/status, smua harus ditutupi. Setiap manusia pasti mempunyai masalah, namun hanya manusia yang bijak yang bisa mengubah masalah menjadi sebuah peluang menuju kesuksesan.

Sang penyair terkenal Kahlil Gibran, pernah mengatakan, bahwa kerja adalah cinta, maka jika kita sudah tak sanggup bekerja dengan cinta, kita tak lebih hina dari pengemis yang meminta-minta sedekah dari pekerja yang bekerja dengan penuh cinta.

Semoga kerja saya selama ini, kesabaran saya untuk bertahan bisa membuahkan pahala dan dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah. Untuk manajemen perusahaan ini, semoga lebih dibukakan hatinya oleh Allah, untuk bisa berpikir dan bertindak bijaksana demi mengayomi dan memberikan yang terbaik kepada seluruh stake holder, terlebih karyawannya. Untuk kawan saya, semoga selalu mendapat pencerahan Allah, bahwa bekerja haruslah dilandasi cinta dan ibadah. Amien. Selamat berkarya di tempat baru!

Semoga masih banyak pekerja2 yang bekerja dengan cinta di perusahaan ini.

** untuk anak dan istriku yang sedang tertidur lelap, terimakasih atas kesabaran dan penerimaan yang apa adanya selama ini. Kalian adalah semangat bagiku. Terima kasih.

Rabu, Juli 26, 2006

Kesekian kali di Medan

Entah sudah berapa kali aku datang di Medan. Aku singgah pertama kali di kota ini beberapa tahun yang lalu, dan tinggal agak lama ketika kantor membuka kantor cabang baru di jalan Krakatau. Medan yang aku ingat adalah jus terong belanda, Kesawan Square, Danau Toba, Mie Aceh ... (kok ingetnya banyak ke makanan hehehe...)

Tadi siang aku berangkat ke Bandara setelah mengikuti acara Family Gathering di kantor istriku. Namun aku nggak sampai tuntas mengikutinya. Seusai mendapatkan doorprize berupa TV 21 inch Samsung ( heran juga sih... ini kali kedua aku dapat TV di acara FamGat di bulan yang sama... rejeki 'kali ya...???) aku langsung siap2 menuju bandara meninggalkan istri dan anakku Lintang. Maap ya nak... bapaknya mau njalanin tugas... :D

Perjalanan kali ini bersama kang Prinjom, kang Pumz (flyer newbie hehe...), kang Joe dan kang Hud dari BC. Perjalanan biasa aja sampe ketika mau landing di Polonia hujan deres. Maklum namanya pesawat kecil (Boeing 737-500) jadinya terguncang2 terkena awan hitam. Pokoknya gak enak banget deh... Si Pumz nyang newbie aja ampe nyumpah2 nggak bakalan naek pesawat lagi ..hahahaha...

Alhamdulillah, sampe juga di bandara dengan selamat. Acara selanjutnya, tentu aja ke hotel dan nyari makan malem.